CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »
♥ AllahSWT ♥ MuhammadSAW ♥ Islam ♥ mamapapa ♥ adityaindrawan ♥ vetalisatika ♥ psychology ♥ 2PA05 ♥ temagunadarma ♥ anakkecil ♥ makan ♥ tidur ♥ wisatakuliner ♥ airputih ♥ belanja ♥ driving ♥ maingame ♥ dengerinmusik ♥ bacanovel ♥ bacakomik ♥ nontonfilm ♥ spongebobpatrick ♥ doraemon ♥ tomandjerry ♥ bonekaberuang ♥ dinosaurus ♥ monkey ♥ kumbang ♥ kucing ♥ hamsters ♥ kelinci ♥ burungkakaktua ♥ panda ♥ apple ♥ jeruk ♥ pepaya ♥ semangka ♥ manggis ♥ mangga ♥ anggur ♥ kiwi ♥ purple ♥ blue ♥ green ♥ white ♥ black ♥ red ♥ brown ♥ orange ♥ bantalkecil ♥ batik ♥

About Me

My photo
I'm a student of psychology. I'm just an ordinary girl who has many dreams and desires.

Tuesday

Rational Emotive Therapy

Pengertian Rational Emotive Therapy

      Istilah Rational Emotive Therapy sukar digantikan dengan istilah bahasa Indonesia yang mengena dan paling dapat dideskripsikan dengan mengatakan corak konseling yang menekankan kebersama dan interaksi antara berfikir dan akal sehat (rational thingking), berperasaan (emoting) dan berperilaku (acting), serta menekankan bahwa suatu perubahan yang mendalam dalam cara berfikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku.
      Pelopor dari promoter utama corak konseling ini adalah Albert Ellis. Menurut Ellis, corak konseling Rational Emotive Therapy berasal dari aliran pendekatan Kognitif dan Behavioristik. Selain itu, menurut Ellis, manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berfikir rasional dan irasional.
      Rational Emotive Therapy sendiri adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berfikir rasional dan jujur maupun untuk berfikir irasional dan jahat. Hambatan dari psikologis atau emosionalnya adalah akibat dari cara berfikir yang tidak logis dan irasional. Emosi selalu menyertai individu yang berfikir dengan penuh prasangka, sangat personal dan irasional. Berfikir secara irasional akan tercemin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukan cara berfikir yang salah dan verbalisasi  yang tepat menunjukkan cara berfikir yang tepat.

Pandangan dari Rational Emotive Therapy

      Pandangan dari pendekatan rational emotive tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep teori Albert Ellis. Ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan teori ABC, yaitu :
  • Antecedent event (A)
      Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecedent event bagi seseorang.
  • Belief (B)
      Belif (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belif atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irasional belif atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berfikir atau sistem keyakinan yang tepat, masuk akal dan bijaksana. Sedangkan keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan yang sistem berfikir seseorang yang salah, tidak masuk akal dan emosional.
  • Emotional consequence (C)
      Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam membentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecedent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara lain dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.

Fungsi dan peran terapis

      Aktifitas-aktifitas therapeutic utama Rational Emotive Therapy dilaksanakan dengan satu maksud utama, yaitu membantu klien untuk membebaskan diri dari gagasan-gagasan yang tidak logis dan untuk mengetahui gagasan-gagasan yang logis sebagai penggantinya. Sasarannya adalah menjadikan klien menginternalisasikan suatu filsafat hidup yang rasional sebagaimana dia menginternalisasi keyakinan-keyakinan dagmatis yang rasional dan takhayul yang berasal dari orang tua maupun dari kebudayaannya.
      Untuk mencapai tujuan tersebut, terapis memiliki tugas-tugas yang lebih spesifik, yaitu :

  • Mengajak klien untuk berfikir tentang beberapa gagasan dasar yang irasional yang telah memotivasi banyak gangguan tingkah lakunya.
  • Menatang klien menguji gagasan-gagasannya.
  • Menunjukkan kepada klien ketidaklogisan pemikirannya.
  • Menggunakan suatu analisis logika untuk meminimalkan keyakinan-keyakinan irasional klien.
  • Menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan itu tidak ada gunanya dan bagaimana keyakinan-keyakinan akan mengakibatkan gangguan-gangguan emosional dan tingkah laku di masa depan.
  • Menggunakan absurditas dan humor untuk menghadapi irasional pikiran klien.
  • Menerangkan bagaimana gagasan-gagasan yang irasional bisa digantikan dengan gagasan-gagasan yang rasional yang memiliki landasan empiris.
  • Mengajari klien bagaimana menerapkan pendekatan ilmiah pada cara berfikir sehingga klien bisa mengamati dan meminimalkan gagasan-gagasan irasional dan kesimpulan-kesimpulan yang tidak logis sekarang maupun masa yang akan datang yang telah mengekalkan cara-cara merasa dan berperilaku yang merusak diri.
Tujuan dari konseling
  1. Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berfikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif.
  2. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, rasa was-was dan rasa marah.
Teknik-teknik konseling

      Pendekatan konseling rational emotive menggunakan berbagai teknik yang bersifat kognitif, afektif dan behavioristik yang disesuaikan dengan kondisi klien. Beberapa teknik yang dimaksud antara lain :

  • Teknik-teknik emotif (afektif)
a.    Assertive adaptive
      Teknik ini digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.

b.    Bermain peran
      Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.

c.    Imitasi
      Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapai dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif.
  • Teknik-teknik behavioristik
a.    Reinforcement
      Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). Teknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai yang positif. Dengan memberikan reward ataupun punisment, maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.

b.    Social modeling
      Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. Teknik ini dilakukan agar model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru), mengobservasi, menyesuaikan diri dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.
  • Teknik-teknik kognitif
a.    Home work assigments
      Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. Dengan tugas rumah yang diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan.
      Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri, pengolahan diri klien dan mengurangi ketergantungan kepada konselor.

b.    Latian assertive
      Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengeksperikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran, latihan atau meniru model-model sosial. Maksud utama teknik latihan assertive adalah :
  1. Mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya.
  2. Membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain.
  3. Mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri.
  4. Meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah laku-tingkah laku assertive yang cocok untuk diri sendiri.
Langkah-langkah Rational Emotive Therapy
  • Langkah pertama
      Konselor berusaha menunjukkan bahwa cara berfikir klien harus logis kemudian membantu bagaimana dan mengapa klien sampai pada cara seperti itu, menunjukkan pola hubungan antara pikiran logis dan perasaan yang tidak bahagia atau dengan gangguan emosi yang dialaminya.
  • Langkah kedua
      Menunjukkan kepada klien bahwa jika ia mempertahankan perilakunya maka ia akan terganggu dengan cara berfikirnya yang tidak logis inilah yang menyebabkan masih adanya gangguan sebagaimana yang dirasakan.
  • Langkah ketiga
      Bertujuan mengubah cara berfikir klien dengan membuang cara berfikir yang tidak logis.
  • Langkah keempat
      Dalam hal ini konselor menugaskan klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi yang nyata.

Kelebihan dan kekurangan dari Rational Emotive Therapy

Kelebihan
  • Pendekatan ini cepat sampai kepada masalah yang dihadapi oleh klien.
  • Kaedah pemikirang logis yang diajarkan kepada klien dapat digunakan dalam menghadapi gejala yang lain.
  • Klien merasakan diri mereka mempunyai keupayaan intelektual dan kemajuan cara berfikir.
Kelemahan
  • Terdapat klien yang boleh ditolong melalui analisis logis dan falsafah, tetapi ada pula yang tidak begitu sulit cara berfikirnya untuk dibantu dengan cara yang sedemikian yang berasaskan kepada logika.
  • Selain itu, terdapat setengah klien yang begitu terpisah dari realita sehingga usaha untuk membawanya ke alam nyata yang sukar sekali dicapai.
  • Dan ada juga klien yang terlalu berprasangka terhadap logika, sehingga sukar untuk mereka menerima analisis secara logika.

Marrisa Arsylia Deyavania
14510231
3 PA 05

Sumber

No comments:

Post a Comment